Minggu, 16 Desember 2012

MAKALAH BENTUK LAHAN



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Geomorfologi ( geomorphology ) adalah ilmu tentang roman muka bumi beserta aspek-aspek yang mempengaruhinya. Geomorfologi bisa juga merupakan salah satu bagian dari geografi. Di mana geomorfologi yang merupakan cabang dari ilmu geografi, mempelajari tentang bentuk muka bumi, yang meliputi pandangan luas sebagai cakupan satu kenampakan sebagai bentang alam (landscape) sampai pada satuan terkecil sebagai bentuk lahan (landform).
Hubungan geomorfologi dengan kehidupan manusia adalah dengan adanya pegunungan-pegunungan, lembah, bukit, baik yang ada didarat maupun di dasar laut.Dan juga dengan adanya bencana alam seperti gunung berapi, gempa bumi, tanah longsor dan sebagainya yang berhubungan dengan lahan yang ada di bumi yang juga mendorong manusia untuk melakukan pengamatan dan mempelajari bentuk-bentuk geomorfologi yang ada di bumi. Baik yang dapat berpotensi berbahaya maupun aman. Sehingga dilakukan pengamatan dan identifikasi bentuk lahan.
Istilah bentang lahan berasal dari kata landscape (Inggris) atau landscap (Belanda) atau landschaft  (Jerman), yang secara umum berarti pemandangan. Arti pemandangan mengandung dua aspek, yaitu aspek visual dan aspek estetika pada suatu lingkungan tertentu (Zonneveld, 1979 dalam Tim Fakultas Geografi UGM, 1996). Untuk mengadakan analisis bentanglahan diperlukan suatu unit analisis yang lebih rinci.Dengan mengacu pada definisi bentang lahan tersebut, maka dapat dimengerti, bahwaunit analisis yang sesuai adalah unit bentuklahan. Oleh karena itu, untuk menganalisis dan mengklasifikasi bentanglahan selalu mendasarkan pada  kerangkakerja bentuklahan. Berdasarkan pengertian bentanglahan seperti di atas, maka dapat diketahui, bahwa ada delapan anasir bentanglahan. Kedelapan anasir bentanglahan itu adalah udara, tanah, air, batuan, bentuklahan, flora, fauna, dan manusia.
  Bentuk lahan adalah bagian dari permukaan bumi yang memiliki bentuk topografis khas, akibat pengaruh kuat dari proses alam dan struktur geologis pada material batuan dalam ruang dan waktu kronologis tertentu. Bentuk lahan terdiri dari sistem Pegunungan, Perbukitan, Vulkanik, Karst, Alluvial, Dataran sampai Marine terbentuk oleh pengaruh batuan penyusunnya yang ada di bawah lapisan permukaan bumi. Pada makalah ini akan dijelaskan kembali apa yang dimaksud dengan bentanglahan yang terbentuk berasal dari proses pelarutan.

B.     Rumusan Masalah
Dari penjelasan di atas maka dapat di rumuskan masalah, yaitu :
1.      Apa yang dimaksud dengan bentuk lahan ?
2.      Apa saja jenis-jenis bentuk lahan dan bagaimana proses terbentuknya ?

C.     Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini, yaitu :
1.      Mengetahui apa yang dimaksud dengan bentuk lahan dan bagaimana prosesnya.
2.      Mengetahui jenis-jenis bentuk lahan dan bagaimana proses terbentuknya.
A.    Manfaat
Adapun manfaat dari makalah ini adalah :
1.      Bagi Mahasiswa dan kami sendiri dapat meningkatkan pengetahuan secara khusus, pemahaman dan berusaha untuk mempelajari lebih, kemudian mengimplikasikan.
2.      Bagi Dosen dan tenaga pengajar, sebagai bahan informasi tambahan terhadap matakuliah yang bersangkutan dan materi yang diajarkan.

B.     Metode Pembuatan Makalah
Metode yang digunakan pembuatan makalah ini adalah metode sekunder, yaitu metode berdasarkan data dari buku, internet atau artikel-artikel.

BAB II
DASAR TEORI

*      Asal kata Geomorfologi
          Geos : Bumi
          Morfo : Asal-usul
          Logos : Ilmu  (Yunani)
          Artinya: Ilmu yang mempelajari asal-usul bumi.
          Geomorfologi arti fisiologisnya adalah uraian tentang bentuk bumi (Kardono Darmoyuwono, 1972).
*    Definisi Geomorfologi
          Ilmu pengetahuan yang mempelajari atau mendeskripsi bentuklahan /landforms (Lobeck, 1983: 2).
          Ilmu tentang bentuklahan (Thronbury, 1954: 3).
          Studi tentang bentuklahan, terutama mengenai sifat alaminya, asal mula, proses perkembangan dan komposisi material penyusunnya (Cook et al.,1978: 4).
          Studi yang mendeskripsi bentuklahan dan proses yang mempengaruhinya, dan menyelidiki interrelasi antara bentuk dan proses tersebut dalam tatanan keruangannya (Van Zuidam et al., 1979: 5).
          Ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan bentuklahan penyusun muka bumi, baik di atas maupun di bawah permukaan air laut dan menekankan pada asal mula terbentuknya (genesa)  dan perkembangan pada masa yang akan datang, serta konteksnya/ hubungannya dengan lingkungannya (Verstappen, 1983).
          Dornhany dan Cooke
Geomorfologi mempelajari bentuk lahan dan unsure-unsur di dalamnya serta cara terbentuknya, perkembangannya dan komposisi material yang ada di dalamnya.
          Bentuklahan/Landforms
            Merupakan bentukan pada permukaan bumi sebagai hasil perubahan bentuk permukaan bumi oleh proses-proses geomorfologis yang beroperasi di permukaan bumi.
          Proses Geomorfologis
            Semua perubahan fisik maupun kimia pada permukaan bumi oleh tenaga-tenaga geomorfologis.
          Tenaga Geomorfologis
            Semua tenaga yang ditimbulkan oleh medium alam yang berada di permukaan bumi termasuk di atmosfer.

ASPEK - ASPEK YANG DIPELAJARI DALAM GEOMORFOLOGI
          Bentuk lahan
            Bentuk lahan dikaji secara kuantitatif maupun kualitatif (morfometri) dimana tujuannya mendiskripsikan relief bumi. Bentuk lahan konstruksional misalnya gunung api, patahan, lipatan, dataran, plato, dome dan pegunungan kompleks. Sedangkan bentuk lahan distruksional meliputi bentuk lahan erosional, residual dan deposisional. Cabang yang mengkaji tentang bentuk lahan disebut Geomorfologi Statis.
          Cara Terbentuknya (Genesis)
            Cara terbentuknya bentuk lahan dan perkembangan selanjutnya dalam waktu yang lama dikaji dalam Geomorfologi Genetik. Bentuk muka bumi disebabkan oleh adanya tenaga Geologi.
          Proses
            Proses merupakan perubahan bentuk lahan dalam waktu yang relatif pendek akibat adanya gaya eksogen serta waktu perkembangannya relatif pendek. Poses ini dikaji dalam Geomorfologi Dinamik.
          Lingkungan (enviroment)
            Proses Geomorfologi terjadi karena adanya kontak dengan lingkungan misalnya tanah, air tanah, air permukaan serta vegetasi termasuk kotak dengan manusia akan mempengaruhi terhadap bentuk lahan maupun proses yang terjadi.
 
Ø  Bentuk lahan berdasarkan genesisnya terbagi menjadi sepuluh klas utama yaitu:
          Bentuk lahan asal struktural, merupakan bentuk lahan yang terjadi akibat pengaruh struktur geologis, contohnya adalah pegunungan lipatan, pegunungan patahan, perbukitan kubah dan sebagainya.
          Bentuk lahan asal vulkanik, merupakan bentuk lahan yang terjadi akibat aktivitas gunung api, contohnya antara lain kerucut gunung api, kawah, kaldera, medan lava.
          Bentuk lahan asal denudasi, merupakan bentuk lahan yang dihasilkan oleh proses degradasi seperti erosi dan longsor, contohnya bkit sisa, peneplain, lahan rusak.
          Bentuk lahan asal fluvial, merupakan bentuk lahan yang terjadi akibat aktivitas sungai, contohnya antara lain dataran banjir, tanggul alam, teras sungai. Karena sebagian besar sungai bermuara di laut maka sering terjadi bentuk lahan akibat kombinasi proses fluvial dan marine.
          Bentuk lahan asal marine, merupakan bentuk lahan yang dihasilkan oleh proses laut seperti tenaga gelombang, pasang dan arus. Contohnya gisik pantai (beach ridge), bura (spit), tombolo, laguna.
          Bentuk lahan asal glasial, merupakan bentuk lahan yang dihasilkan oleh aktivitas gletser (gerakan massa es), contohnya adalah lembah menggantung (hanging valley), morena, drumlin.
          Bentuk lahan asal aeolin, merupakan bentuk lahan yang dihasilkan oleh proses angin, contohnya gumiuk pasir yang memiliki berbagai bentuk seperti barchan, parabolik, longitudinal, transversal,bintang.
          Bentuk lahan asal solusional (pelarutan), merupakan bentuk lahan yang dihasilkan oleh pelarutan batuan. Banyak terdapat pada daerah kapur (karst), contohnya adalah kubah karst, dolina, uvala, polje, gua karst.
          Bentuk lahan asal organik, merupakan bentuk lahan yang dihasilkan oleh aktivitas organisme contohnya adalah terumbu karang dan pantai bakau.
          Bentuk lahan asal antropogenik merupakan bentuk lahan yang dihasilkan oleh aktivitas manusia contohnya kota, pelabuhan.
Ø  Proses
      Proses yang membentuk permukaan bumi adalah:
*    Epigene (proses eksogen), terbagi atas:
Ø  Degradasi (penurunan permukaan bumi) prosesnya meliputi:
1.      Erosi oleh air yang mengalir, air tanah, angin, gelombang dan arus laut serta gletser.
2.      Pelapukan (wethering)
3.      Pemindahan massa tanah (mass wasting)
Ø  Agradasi disebabkan oleh tenaga air yang mengalir, air tanah, gelombang, angin dan gletser.
Ø  Organisme
*    Hipogene (proses endogen), meliputi atas diatropisme serta vulkanisme.
*    Ekstraterestial yang disebabkan oleh adanya benda-benda luar angkasa yang jatuh ke bumi, sehingga menimbulkan proses geomorfologi, contohnya meteor, asteroid.

KONSEP-KONSEP GEOMORFOLOGI
v  Ada sepuluh konsep dasar geomorfologi meliputi:
Ø  Konsep 1
          Hukum dan proses fisika yang bekerja saat ini, bekerja pada waktu yang lampau meskipun tidak dengan intensitas yang sama.
          Penjelasan:
ü  Hal ini mengandung pengertian bahwa hokum dan proses fisik yang bekerja saat ini telah bekerja sejak waktu geologi meskipun dengan daya kehebatan yang berbeda.
ü  Dalam prinsif “uniformitarianisme” dari James Hutton dikomunikasikan bahwa hokum dan proses fisik yang berlangsung pada waktu lampau sama dengan yang bekerja saat ini. Pada kenyataannya hokum dan proses fisik itu masing-masing mempunyai intensitas yang berbeda.
Ø  Konsep 2
          Struktur geologi merupakan faktor pengontrol yang dominan dalam perkembangan bentuk permukaan bumi.
          Penjelasan:
ü  Pada setiap daerah akan memperlihatkan struktur geologi masing-masing, dimana struktur geologi ini akan berubah-ubah menurut tingkat kedewasaannya. Dengan sendirinya perkembangan bentuk permukaan bumi ini akan dapat dilihat melalui struktur geologi yang berkembang pula.
Ø  Konsep 3
          Pada bentuk lahan yang besar, permukaan bumi mempunyai relief (tinggi/rendah permukaan) karena proses geomorfologi telah berlangsung dengan hal yang berbeda.
Ø  Konsep 4
          Proses geomorfik akan meninggalkan bekasnya di atas permukaan bumi dan masing-masing proses geomorfik membentuk suatu kelompok bentuk permukaan bumi sesuai dengan karakternya.
Ø  Konsep 5
          Karena ada perbedaan tenaga erosi yang bekerja pada permukaan bumi, maka dihasilkan urutan bentuk permukaan bumi yang mempunyai karakteristik tertentu sesuai dengan tingakat perkembangannya.
          Dalam hal ini akan didapatkan suatu bentuk lahan tertentu sesuai dengan tingkatan yang bekerja (menurut orde). Misalnya :
ü  Orde 1 (first order relief)
          Merupakan bentuk-bentuk lahan terbesar yang terbentuk pada awal-awal perkembangan bumi. Terdiri atas benua (pangea) dan cekungan dasar laut.
ü  Orde 2 (second order relief)
          Merupakan bentuk-bentuk lahan terbesar yang terbentuk pada awal-awal perkembangan bumi. Terdiri atas benua (pangea) dan cekungan dasar laut.
ü  Orde 3 (Third Order Relief)
Ditemukan relief berupa sisa pegunungan. Tenaga yang membentuknya adalah tenaga eksogen.
Ø  Konsep 6
          Evolusi geomorfik yang komplek lebih umum didapat dari pada bentuk yang sederhana. Karena banyaknya proses geomorfologi yang terjadi, maka bentuk-bentuk lahan dihasilkan tidak hanya disebabkan oleh satu proses saja.
          Misalnya: Adanya pegunungan kompleks, di mana di daerah itu terdapat lipatan, patahan intrusi dan lain-lain.
Ø  Konsep 7
          Sebagian kecil dari topografi bumi dibentuk lebih tua dari zaman Tersier dan sebagian besar tidak lebih tua dari zaman Pleistosen. Hal ini dikarenakan pada zaman Tersier banyak terjadi perubahan-perubahan bumi.
          Misalnya: Pada zaman Tersier terjadi aktivitas vulkanis.
          Pada zaman Pleistosen sebagian air dipermukaan bumi membeku (menjadi es).
 Ø  Konsep 8
          Interpretasi bentangan bumi pada saat ini tidak mungkin dilakukan tanpa menilai pengaruh geologi dan perubahan iklim selama zaman pleistosen.
Ø  Konsep 9
          Apresiasi penilaian iklim yang terjadi di dunia adalah sangat penting untuk mengetahui perbedaan proses-proses geomorfik.
Ø  Konsep 10
Di dalam geomorfologi, walaupun terutama berkaitan dengan bentangan bumi yang ada sekarang, tetapi untuk mengkaji hal-hal tersebut harus meninjau masa lampau. Karena bentangan bumi yang ada sekarang asalnya juga dari pembentukan masa lampau maka untuk meninjau kembali kita tidak lepas dari sejarah pembentukannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses geomorfologi
v  Faktor fisik, yaitu iklim dan batuan.
ü  Faktor iklim: suhu, kelembaban, curah hujan, angin, dan lama penyinaran matahari.
v  Faktor batuan:
        Struktur batuan, meliputi: mineral penyusun batuan, kekompakan batuan, bidang perlapisan, sikap perlapisan batuan, kekar dan sesar.
        Tekstur batuan, meliputi: tingkat kelolosan air dan mineral penyusun batuan.
v  Faktor non fisik, yaitu: vegetasi penutup, manusia dan hewan. 

Ø  PELAPUKAN
ü  Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pelapukan:
ü  Iklim,
ü  Topografi,
ü  Batuan,
ü  Biota,
ü  Waktu
v Proses pelapukan ada 3 macam:
        Pelapukan fisis (mekanis), disebabkan oleh:
ü  Tekanan,
ü  Suhu,
ü  Pembentukan kristal garam, dan
ü  Akibat aktivitas/kegiatan manusia.
        Pelapukan yang menghasilkan fragmen batuan yang lebih kecil, namun dengan komposisi kimia tetap.
v  Pelapukan Khemis, disebabkan oleh karena proses:
ü  Hidrolisa,
ü  Hidratasi,
ü  Karbonasi,
ü  Oksidasi dan masuknya koloid ke dalam batuan.
        Pelapukan karena adanya perubahan susunan kimia pada batuan.
v  Pelapukan Organis
        Pelapukan yang terjadi oleh aktivitas organisme, misal: cacing, rayap, dan berbagai jenis serangga yang hidup di dalam tanah serta aktivitas binatang dan manusia.
         
Ø  EROSI
            Erosi adalah proses pengelupasan dan pengangkutan material tanah atau batuan.
Ø  Faktor-faktor yang menentukan erosi:
          Iklim (curah hujan),
          Lereng,
          Vegetasi penutup,
          Batuan/tanah, dan
          Pengelolaan
Ø  Tipe erosi permukaan:
*     Erosi percik (splash erosion) adalah proses terkelupasnya partikel-partikel tanah bagian atas oleh tenaga kinetik air hujan bebas atau sebagai air lolos.
*     Erosi lembar (sheet erosion) adalah erosi yang terjadi ketika lapisan tipis permukaan tanah di daerah berlereng terkikis oleh kombinasi air hujan dan air larian (runoff).
*     Erosi alur (rill erosion) adalah pengelupasan yang diikuti dengan pengangkutan partikel-partikel tanah oleh aliran air larian yang terkonsentrasi di dalam saluran-saluran air.
*     Erosi parit  (gully erosion) adalah erosi yang membentuk jajaran parit yang lebih dalam dan lebar dan merupakan tingkat lanjutan dari erosi alur. 

GERAK MASSA BATUAN
          Gerak  massa batuan atau mass-wasting atau mass movement adalah proses bergeraknya puing-puing batuan menuruni lereng secara merayap, karena pengaruh langsung gravitasi.

Gerak massa batuan dibedakan menjadi 4 kelompok:
          Aliran lambat (slow flowage)
          Creepyaitu gerakan tanah atau puing-puing batuan menuruni lereng karena pengaruh gravitasi, gerakan sangat lambat sehingga biasanya tidak tampak mata.
Contoh: soil creep, talus creep, rock creep, rock-glacier creep dan solifluction.
          Aliran cepat (rapid flowage)
Bergerak sebagai aliran cepat, biasanya melewati saluran, material berupa: tanah, lempung, puing batuan yang jenuh air.
Contoh: earthflow, mudflow, debris avalanche.
          Longsoran atau landslide
Gerakannya nampak mata, material relatif kering.
Contoh: slump, debris slide, debris fall, rock slide, rock fall.
          Terban atau subsidence
Adalah gerakan permukaan batuan ke bawah tanpa permukaan bebas dan gerakan mendatar.
ü  Relief Orde I
          Merupakan proses pembentukan permukaan bumi, seperti benua dan ledok lautan dan proses pembentukkannya sudah berlangsung jutaan tahun yang lalu, sehingga telah mengalami proses geomorfik.
ü  Relief Orde II
          Merupakan kelanjutan dari relief orde I, dan bersifat membangun atau konstruksional, karena dibentuk oleh proses endogen seperti proses diatrofisme dan proses volkanisme. Hasil bentukkannya membentuk pegunungan dan daratan dan dibedakan menjadi 6, yaitu:
        Plain dan Plateau,
        Pegunungan Dome,
        Pegunungan Blok,
        Pegunungan Lipatan,
        Pegunungan Kompleks, dan
        Gunungapi dan bentukan yang berkaitan.
ü  Relief Orde III
          Merupakan kelanjutan dari orde II dan bersifat destruktif, yaitu terjadi pengrusakan relief bumi yang dibentuk pada orde II oleh tenaga eksogen, seperti air, angin, gelombang dan es.
          Hasil bentukan reliefnya terdiri  dari 3 bentuk tahapan, yaitu:
ü  Bentuk Erosional
          Bentukan hasil proses pengelupasan relief oleh tenaga eksogen pada seluruh bagian permukaan atau sebagian dari bentuk relief orde II.
ü  Bentuk Residual
          Bentukan yang tersisa dari hasil proses pengelupasan relief oleh tenaga eksogen.
ü  Bentuk Deposisional
          Bentukan hasil pengendapan material hasil pengelupasan relief yang terangkut oleh tenaga eksogen.

LEMBAH DAN SUNGAI
*      Perkembangan lembah dibedakan menjadi 3 tahapan, yaitu:
  1. Pelebaran lembah (valley widening)
        Adanya erosi lateral/horisontal oleh sungai pada material dinding lembah dengan cara hidrolik dan korasif.
        Adanya erosi dan penggerusan dinding lembah oleh aliran air hujan.
        Pelapukan dan gerak massa batuan  yang terjadi pada dinding lembah.
        Masuknya cabang sungai atau bergabungnya sungai ke dalam lembah sungai utama.
  1. Pendalaman lembah (valley deepening)
        Adanya proses hidrolisis, yaitu proses air yang mengalir di dasar lembah langsung menggaruk dan membawa material-material yang ada di dasar lembah.
        Adanya proses korosi dan abrasi pada dasar lembah, yaitu proses pengikisan dasar lembah oleh air dan adanya material yang ternagkut mempunyai tenaga untuk mengangkut, mengikis, merusak dan menghancurkan. Proses korosi bersifat kimiawi, yaitu proses pengikisan yang dipercepat oleh adanya reaksi kimia.
        Pothole driling atau pembentukan lubang pada dasar lembah yang dapat membentuk sebuah kedung.
        Adanya pelapukan pada dasar lembah.
  1. Pemanjangan lembah (valley lengthening)
        Adanya erosi mundur (headward erosion) oleh air sungai
        Berkembangnya sungai meander
        Adanya termini, yaitu  prose pengangkatan lahan atau penurunan muka air laut.
Ø  Klasifikasi lembah didasarkan atas 4 faktor, yaitu:
  1. Berdasarkan Umurnya, terbagi menjadi lembah muda, dewasa dan tua.
  2. Berdasarkan Genetiknya, terbagi menjadi:
        Lembah konsekuen (k), lembah yang dibentuk oleh aliran sungai yang mengalir sesuai dengan arah dip batuan atau perlapisan batuan.
        Lembah subsekuen (s), lembah yang dibentuk oleh aliran sungai yang arah alirannya sejajar dengan arah strike.
        Lembah resekuen (r), lembah yang dibentuk oleh aliran sungai yang mengalir searah dip batuan atau sejajar dengan lembah sungai konsekuen, biasanya aliran sungainya masuk ke sungai subsekuen.
        Lembah Obsekuen (o), lembah yang dibentuk oleh aliran sungai yang mengalir menuruni lereng, sehingga berlawanan dengan dip batuan dan masuk ke sungai subsekuen.
Lembah Insekuen (i), lembah yang dibentuk oleh aliran sungai yang arah alirannya tidak dikontrol struktur batuan (dip atau strike), sehingga mengalir dengan arah tidak menentu, biasanya terjadi pada daerah pengangkatan baru.
  1. Berdasarkan Struktur pengontrolnya, terbagi menjadi:
        Lembah monoklinal,
        Lembah antiklinal,
        Lembah sinklinal,
        Lembah sesar/patahan,
        Lembah rekahan/joint.
  1. Berdasarkan pemotongan pada struktur, terbagi menjadi:
        Lembah superposed, yaitu lembah yang dibentuk oleh aliran sungai  yang tidak searah dengan kemiringan perlapisan batuan asal.
        Lembah anteseden (antecedent), lembah yang dibentuk oleh aliran sungai yang memotong struktur geologi, karena proses pengikisannya lebih cepat daripada proses pengangkatan.
Pola Aliran Sungai
*      Pola Dendritik
          Pola aliran yang perkembangannya menyebar ke segala arah dengan percabangan yang teratur.
          Cirinya: pada batuan berstruktur homogen atau struktur horisontal dan berbutir halus; resistensi batuan homogen; permeabilitasnya seragam dan kemiringannya landai; terdapat pada lereng-lereng pegunungan.
          Misal: Batuan shale, lempung, pasir halus, napal, tuff bercampur lempung.
*      Pola Paralel
          Pola aliran yang cabang-cabang sungainya berkembang secara paralel atau hampir paralel.
          Cirinya: pada batuan shale atau clay dengan kemiringan yang nyata; jarak antar cabang sungai beraturan karena pengaruh struktur.
          Pola ini terdapat pada: pantai; aliran lava dan tilted valley.
*      Pola Radial
*      Pola Radial Sentripetal
Pola aliran dengan sungai-sungai yang mengalir menuju pusat suatu basin/cekungan atau depresi, misal danau atau kaldera/kawah gunung api.
*      Pola Radial Sentrifugal
Pola aliran dengan sungai-sungai yang mengalir menyebar dari puncak gunung menuju ke bawah. Terdapat pada gunungapi dan pegunungan dome mudaatau berstruktur volkan.
*      Pola Trellis
Pola aliran yang terjadi pada daerah yang telipat kuat atau batuan berlapis yang berdip, dan menunjukan suatu pola aliran yang paralel dan biasanya mengikuti arah strike batuan.
*      Pola Rektanguler
Pola aliran yang berkembang mengikuti patahan atau belahan (joint), sungai-sungai lurus dan belokan terjadi secara tiba-tiba membentuk sudut hampir 900.
*      Pola Anuler
Pola alirannya menyebar dan merupakan peralihan dari pola radial, karena berkembang pada struktur melingkar/dome yang sudah terkikis kuat dan adanya perbedaan resistensi pada perlapisan batuan. Sungai-sungai subsekuen mengikuti pada zone yang kurang resisten.
*      Pola Barbed
Pola aliran dengan sungai cabang yang membelok kearah hulu, merupakan pola aliran yang menunjukkan penggabungan sungai-sungai kecil ke sungai induk dengan arah belokan ke hulu. Pola ini terjadi pemenggalan sungai oleh patahan yang melintang terhadap sungai-sungai besar, sehingga arah aliran membalik dari sebagian sistemnya.
*      Pola Deranged
Pola yang terbentuk pada daerah rawa atau dekat danau dengan bentuk tidak teratur, terdapat kombinasi antara drainase permukaan dan bawah permukaan.
*      Pola Contorted
Pola aliran ini mula-mula sungai utama mengalir ke satu arah kemudian arahnya membalik ke arah hulu. Proses terjadinya kemungkinan karena pengaruh retakan (fracture) pada batuan atau adanya blok-blok batuan dengan berbagai kemiringan.
*      Pola Anguler
Merupakan hasil modifikasi dari tipe rektangular yang ditandai dengan belokan-belokan tajam sehubungan dengan adanya joint atau patahan. Sungai-sungai cabang lebih kurang paralel dengan sungai utama dengan sudut tumpul. Pola ini terdapat pada batuan sedimen yang granuler seperti sandstone dengan kedudukan hampir horisontal.



BAB III
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Bentuklahan dan Bentang Alam
Istilah bentanglahan berasal dari kata landscape (Inggris) atau Landscap (Belanda) atau landschaft  (Jerman), yang secara umum berarti pemandangan. Arti pemandangan mengandung dua aspek,yaitu aspek visual dan aspek estetika padasuatu lingkungan tertentu (Zonneveld, 1979 dalam Tim Fakultas Geografi UGM,1996).
Bentuklahan adalah bagian dari permukaan bumi yang memiliki bentuk topografiskhas, akibat pengaruh kuat dari proses alam dan struktur geologis pada material batuan dalam ruang dan waktu kronologis tertentu. Dari pengertian ini, faktor-faktor penentu bentuklahan dapat dirumuskan sebagai berikut :
B = f (T, P, S, M, K)………………………………(1) 
Notasi dalam rumus (1 ) tersebut adalah :
B       =  bentuklahan,
T       =  topografi
P       =  proses alam
S        =  struktur geologis
M      =  material batuan
K       =  ruang dan waktu kronologis.
Oleh karena itu untuk menganalisis bentanglahan lebih sesuai dengan berdasarkan unit bentuklahan, maka klasifikasi bentanglahan juga akan lebihsesuai jika didasarkan pada unit-unit bentuklahan yang menyusunnya. Verstappen (1983) telah mengklasifikasi bentuklahan berdasarkan genesisnya menjadisepuluh klas utama. Kesepuluh klas bentuklahan utama itu adalah sebagai berikut :
1.      Bentuklahan asal structural
2.      Bentuklahan asal vulkanik 
3.      Bentuklahan asal denudasional
4.      Bentuklahan asal fluvial
5.      Bentuklahan asal marine
6.      Bentuklahan asal glacial
7.      Bentuklahan asal Aeolian
8.      Bentuklahan asal solusional (pelarutan)
9.      Bentuklahan asal organik 
10.  Bentuklahan asal antropogenik.

B.     Bentuk – Bentuk Lahan Menurut Genesisnya

1.      Bentuk lahan asal solusional (pelarutan),
                 Bentuklahan asal solusional atau pelarutan dikenal juga dengan istilah karst.Bentuklahan karst termasuk bentuk bentuklahan yang penting, dan banyak puladitemukan di Indonesia. Bentuk ini sangat erat berhubungan dengan batuanendapan yang mudah melarut. Oleh karena itu dengan mengetahui bentuk  bentang alamnya, pada umumnya orang dapat mengetahui jenis batuannya, terutama juga karena bentuk bentangalam karst yang sangat karakteristik dan mempunyai tanda-tanda yang mudah dikenal baik di lapangan, pada petatopografi maupun pada potret udara dan citra satelit.
              Bentang alam ini terutama memperlihatkan lubang-lubang, membulat atau memanjang, gua-gua dan bukit-  bukit yang berbentuk kerucut. Di dunia, daerah yang ditutupi bentangalam karsttersebar di Perancis Selatan, Spanyol Utara, Belgia, Yunani, Jamaika, beberapanegara Amerika Selatan, dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat(Tenesse, Indiana, Kentucky). Sebenarnya kata karst berasal dari nama suatu pegunungan di Yugoslavia yang berbentangalam spesifik ini. Di Indonesia bentangalam karst dapat ditemukan di beberapa daerah di pulau Jawa, yaituJampang di Selatan Jawa Barat, pegunungan Sewu di Kulon Progo Jawa Tengah, daerah perbukitan Rembang di Jawa Timur, dan beberapa daerah di SulawesiTengah. Di Irian Barat bentangalam karst ditemukan di Kepala Burung pada formasi Klasafet, sedangkan di Sumatera ditemukan, terutama di Sumatera Selatan dan Aceh.


Bentuklahan karst terbentuk karena batuan muda dilarutkan dalam air dan membentuk lubang-lubang. Bentangalam ini terutama terjadi pada wilayah yangtersusun oleh batugamping yang mudah larut, dan batuan dolomit atau gamping dolomitan. Akibat pelarutan yang memegang peranan utama, maka air sangat penting artinya. Bentangalam karst biasanya berkembang di daerah yangmempunyai curah hujan cukup. Di samping itu, pelarutan maksimum dapat terjadi bila air tidak mencapai jenuh akan karbonat. Air yang mengalir dapat    menciptakan keadaan ini. Air yang mengandung CO2 (gas) akan lebih mudah melarutkan batugamping. Di bawah ini diperlihatkan reaksi kimia yangmenghasilkan pelarutan tersebut.
H2O + CO2 -><- H2CO3 2H2CO3 + CaCO3 -><-Ca(HCO3)2 + H2 (larut) (gas) Bila Ca(HCO3)2 terkena udara kembali maka berarti ada penambahan H2 dari udara, oleh karena itu keseimbangan reaksi akan bergerak ke kiri dan akan terbentuk kembali CaCO3 yang mengendap. Reaksi tersebut kemudian menerangkan terbentuknya stalaktit dan stalakmit yang dikenal dalam gua-gua didaerah kapur. Oleh karena itu, syarat penting untuk terbentuknya kedua jenis endapan ini ialah adanya persediaan H2 secara terus-menerus yang dapatdiperoleh apabila udara dapat mengalir di dalam gua itu. Udara yang segar selalu menggantikan udara yang berada di dalam gua. Ciri-ciri umum daerah karst antara lain :
·         Daerahnya berupa cekungan-cekungan
·         Terdapat bukit-bukit kecil
·         Sungai-sungai yang nampak dipermukaan hilang dan terputus ke dalam tanah.
·         Adanya sungai-sungai di bawah permukaan tanah
·         Adanya endapan sedimen lempung berwarma merah hasil dari pelapukan batu gamping.
·         Permukaan yang terbuka nampak kasar, berlubang-lubang dan runcing.
Beberapa syarat untuk dapat berkembangnya topografi karst sebagai akibat dari proses pelarutan adalah sebagai berikut :
1.      Terdapat batuan yang mudah larut (batu gamping dan dolomit)
2.       Batu gamping dengan kemurnian tinggi,
3.      Mempunyai lapisan batuan yang tebal,
4.      Terdapat banyak diaklas (retakan),
5.      Pada daerah tropis basah,
6.      Vegetasi penutup yang lebat.
Pada kondisi demikian batugamping akan mudah mengalami pelarutan oleh air yang mengalir yang akhirnya membentuk topografi karst. Kenampakan topografi karst ini sangat spesifik, baik yang ada di permukaan maupun yang ada di bawah permukaan tanah. Menurut Jenings, 1971 (dalam Dibyosaputro 1997), karst merupakan suatu kawasan yang mempunyai karakteristik relief dan drainase yang khas, terutama disebabkan oleh pelarutan batuan yang tinggi oleh air. Batuan yang membentuk karst terdapat di dekat atau pada permukaan bumi yang meliputi daerah yang luas dan tebal (ratusan meter). Jenis batuan ini harus bersifat mudah larut di dalam air. Tektonisme menjadi faktor penentu pula, sesar (fault) dankekar (joint) menjadi faktor yang amat penting. Menurut Faniran dan Jeje, 1983(dalam Dibyosaputro 1997), kekar-kekar yang terdapat pada batuan itu memberikan regangan mekanik, sehingga memudahkan gerakan air melalui batuan itu. Adanya kekar maupun sesar ini memudahkan perkembangan pelarutan di dalam batuan.

Gambar bentuk lahan Kars
Kondisi iklim mencakup ketersediaan curah hujan yang sedang hingga lebat yang bersamaan dengan temperatur yang tinggi. Kondisi semacam ini menyebabkan pelarutan dapat berlangsung secara intensif. Adanya vegetasi yang rapat membantu pelapukan solusional dan menyebabkan perkembangan karst. Vegetasi menyediakan bahan organik yang berbentuk humus dan bersama-sama dengan respirasi akatanaman dapat menimbulkan tingkat konsentrasi karbondioksida di dalam tanahsekitar 30%. Difusi CO2 ini ke dalam air melalui seluruh tanah membantumeningkatkan intensitas pelarutan yang tinggi (Faniran dan Jeje 1983, dalam Dibyosaputro 1997).
Karstifikasi adalah proses kerja oleh air terutama secara kimiawi, meskipun secara mekanik pula, yang menghasilkan kenampakan-kenampakan topografi karst (Ritter 1979, dalam Dibyosaputro 1997).
Proses geomorfik yang penting yang bekerja di daerah berbatu gamping adalah pelarutan.Katalisator yang penting dalam pelarutan itu adalah air hujan dan karbondioksida. Karbondioksida (CO2) larut di dalam air membentuk asam karbonat (H2CO3), yang bereaksi dengan kalsium karbonat (CaCO3) membentuk kalsium bikarbonat yang merupakan larutan berair.
Ø  Pengelompokan bentuklahan yang terjadi pada daerah Karst
Bentuklahan yang terjadi pada daerah karst dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu bentuklahan negatif dan bentuklahan positif.
1.      Bentuklahan Negatif 
Bentuklahan negatif dimaksudkan bentuklahan yang berada di bawh rata-rata permukaan setempat sebagai akibat proses pelarutan, runtuhan maupun terban.Bentuklahan-bentuklahan tersebut antara lain terdiri atas doline, uvala, polye,cockpit, blind valley.

·         Doline
Doline merupakan suatu istilah yang mempunyai banyak sinonim antara lain :sink, sinkhole, cockpit, blue hole, swallow hole, ataupun cenote. Doline itusendiri telah diartikan oleh Monroe, 1970 (dalam Dibyosaputro 1997) sebagaisuatu ledokan atau lobang yang berbentuk corong pada batugamping dengandiameter dari beberapa meter hingga 1 km dan kedalamannya dari beberapa meter hingga ratusan meter. Berdasarkan genesisnya, doline dapat dibedakan menjadi 4yaitu : doline reruntuhan, doline solusi, doline terban, dan doline aluvial (Faniraandan Jeje 1983 dalam Dibyosaputro 1997).

Gambar  Bentuk lahan doline
 
· Uvala
Uvala ialah ledokan tertutup yang luas, yang terbentuk oleh gabungan dari beberapa doline. Uvala mempunyai dasar yang tidak teratur yang mencerminkan  ketinggian sebelumnya dan karakteristik dari lereng doline yang telah mengalami degradasi serta lantai dasarnya tidak serata polje (Whittow 1984 dalam Dibyosaputro 1997).

Gambar Bentuk lahan Uvalac
· Polje
Polje adalah ledokan tertutup yang luas dan memanjang di daerah topografikarst yang mempunyai dasar mendatar dan dinding sekelilingnya terjal (Ritter,1979 dalam Dibyosaputro 1997). Polje ini terjadi dari gabungan sistem gua yangruntuh dan lantai dasarnya biasanya tertutup aluvium.

Gambar Bentuk lahan Polje
·   Blind Valley
Blind valley atau lembah buta adalah satu lembah yang mendadak  berakhir/buntu dan sungai yang terdapat pada lembah tersebut menjadi lenyap di bawah tanah.

Gambar Blind valley

2.      Bentuklahan Positi
Pada prinsipnya terdapat 2 macam bentuklahan karst yang positif yaitu kygelkarst dan turmkarst.
·      Kygelkarst
Kygelkarst merupakan suatu bentuklahan karst tropik yang didirikan oleh sejumlah bukit berbentuk kerucut, yang kadang-kadang dipisahkanoleh cockpit. Cockpit-cockpit ini saling berhubungan satu sama lain dan terjadi pada suatu garis yang mengikuti pola kekar (diaklas). Keygelkarst sering kali disebut sebagai kerucut karst atau butte. Lereng bukit-bukit initerdiri dari cliff dan endapan-endapan sebagai scree.


·         Turmkarst
Turmkarst merupakan istilah yang berpadanan dengan manara karst,mogotewill, pepinohill, atau pinacle karst. Turmkarst terdiri atas perbukitan   berlereng curam atau vertikal yang menjulang tersendiri diantara dataran alluvial
Topografi karst mempunyai permukaan yang kasar akibat dari dominasi adanya doline, uvala maupun polje serta kubah-kubah kapur berupa bukit yang banyak. Di samping itu di dalam permukaan bumi sering dijumpai adanya sungai bawah tanah, gua dalam tanah, serta batu tetes yang menggantung di dinding gua (stalagtit) dan batu tetes yang ada di dasar gua (stalagmit). Mengingat bahwa didaerah karst banyak dijumpai baik bentuklahan yang positif maupun negatif,maka akan berpengaruh terhadap pola dan kerapatan kontur yang ada.
Bentuk- bentuk membulat dari doline, dan bentuk memanjang dan uvala akan dicerminkan oleh bentuk kontur yang membulat dan memanjang yang tertutup. Dengan demikian maka pada peta kontur, pola kontur di daerah karst mempunyaikenampakan spesifik  yakni adanya kontur-kontur yang bulat maupun memanjang dari doline maupun gabungan beberapa doline (uvala) dan polje. Pada umumnya pola aliran yang ada di daerah karst merupakan pola aliran yang mengikutidiaklas maupun joint dan kekar yang ada.
Potensi ekonomi di wilayah karst diantaranya endapan fosfat, terra rossa, dan bahan bangunan. Di gua-gua sering terdapat onggokan fosfat hasil reaksi kimiaantara kotoran burung penghuni gua dengan karbonat. Endapan ini dapat dipakai13 untuk bahan pupuk. Bila batugamping sudah terlarut biasanya akan meninggalkan bagian-bagian yang tidak dapat larut dalam air, oleh karena itu akan terbentuk  persenyawaan karbonat. Pada umumnya sisa-sisa ini berkomposisi besi, berwarna merah atau merah coklat. Sisa-sisa ini dinamakan terra rossa .
Terra rosa yangmengandung kadar besi tinggi ditambang kandungan bijih besinya. Dewasa ini masih dipersoalkan untuk pengambilan aluminium yang Bentangalam karst terbentuk di daerah batu gamping, oleh karena itu bahan bangunan batu gamping mudah diperoleh baik untuk industri kecil (pembakaran batu gamping) atau pun bahan semen. Patut diperhatikan kemungkinan adanya gua-gua yang sangat memegang peranan dalam perhitungan jumlah cadangan. Gua ini kadang-kadang tidak tampak di permukaan dan menyebabkan kesalahan perhitungan jumlah cadangan. Perencanaan tata letak bangunan, jalan, ataupun waduk harus memperhatikan kemungkinan adanya retak-retak yang mempermudah pelarutan batugamping ataupun adanya gua-gua yang dapat menggangu fondasi.

2.      Bentuklahan Asal Proses Eolin

Bentuklahan asal proses eolin dapat terbentuk dengan baik jika memiliki persyaratan sebagai berikut :
1.      Tersedia material berukuran pasir halus hingga pasir kasar dengan jumlah yang banyak,
2.      Adanya periode kering yang panjang dan tegas
3.      Adanya angin yang mampu mengangkut dan mengendapkan bahan pasir tersebut
4.      Gerakan angin tidak banyak terhalang oleh vegetasi maupun objek yang lain.
Endapan oleh angin terbentuk oleh adanya pengikisan,pengangkutan dan pengendapan bahan-bahan tidak kompak oleh angin. Endapan karena angin yang paling utama adalah gumuk pasir(sandunes),dan endapan debu(loose). Kegiatan angin mempunyai dua aspek utama,yaitu bersifat erosif dan deposisi. Bentuklahan yang berkembang terdahulu mungkin akan berkembang dengan baik apabila di padang pasir terdapat batuan. Pada hakekatnya bentuklahan asal proses eolin dapat dibagi menjadi 3, yaitu :
·         Erosional, contohnya : lubang angin dan lubang ombak
·         Deposisional, contohnya : gumuk pasir (sandunes)
·         Residual , contohnya : lag deposit, deflation hollow , dan pans
Contoh bentuk lahan asal proses eolin :

1. Gumuk Pasir atau Sandunes
Gumuk pasir adalah gundukan bukit atau igir dari pasir yang terhembus angin. Gumuk pasir dapat dijumpai pada daerah yang memiliki pasir sebagai material utama, kecepatan angin tinggi untuk mengikis dan mengangkut butir-butir berukuran pasir, dan permukaan tanah untuk tempat pengendapan pasir, biasanya terbentuk di daerah arid (kering).
Bentuk gumuk pasir bermacam-macam tergantung pada faktor-faktor jumlah dan ukuran butir pasir, kekuatan dan arah angin, dan keadaan vegetasi. Bentuk gumuk pasir pokok yang perlu dikenal adalah bentuk sabit (barchans),melintang (transverse), memanjang (longitudinal dune), parabola (parabolik), bintang (star dune).
Secara garis besar, ada dua tipe gumuk pasir, yaitu free dunes (terbentuk tanpa adanya suatu penghalang) dan impedeed Dunes (yang terbentuk karena adanya suatu penghalang). Beberapa tipe gumuk pasir:
1.      Gumuk Pasir sabit (barchan)
Gumuk pasir ini bentuknya menyerupai bulan sabit dan terbentuk pada daerah yang tidak memiliki barrier. Besarnya kemiringan lereng daerah yang menghadap angin lebih landai dibandingkan dengan kemiringan lereng daerah yang membelakangi angin, sehingga apabila dibuat penampang melintang tidak simetri. Ketinggian gumuk pasir barchan umumnya antara 5 – 15 meter. Gumuk pasir ini merupakan perkembangan, karena proses eolin tersebut terhalangi oleh adanya beberapa tumbuhan, sehingga terbentuk gumuk pasir seperti ini dan daerah yang menghadap angin lebih landai dibandingkan dengan kemiringan lereng daerah yang membelakangi angin.

2.      Gumuk Pasir Melintang (transverse dune)
Gumuk pasir ini terbentuk di daerah yang tidak berpenghalang dan banyak cadangan pasirnya. Bentuk gumuk pasir melintang menyerupai ombak dan tegak lurus terhadap arah angin. Awalnya, gumuk pasir ini mungkin hanya beberapa saja, kemudian karena proses eolin yang terus menerus maka terbentuklah bagian yang lain dan menjadi sebuah koloni. Gumuk pasir ini akan berkembang menjadi bulan sabit apabila pasokan pasirnya berkurang.


3.      Gumuk Pasir Parabolik
Gumuk pasir ini hampir sama dengan gumuk pasir barchan akan tetapi yang membedakan adalah arah angin. Gumuk pasir parabolik arahnya berhadapan dengan datangnya angin. Awalnya, mungkin gumuk pasir ini berbentuk sebuah bukit dan melintang, tetapi karena pasokan pasirnya berkurang maka gumuk pasir ini terus tergerus oleh angin sehingga membentuk sabit dengan bagian yang menghadap ke arah angin curam.

4.      Gumuk Pasir Memanjang (longitudinal dune)
Gumuk pasir memanjang adalah gumuk pasir yang berbentuk lurus dan sejajar satu sama lain. Arah dari gumuk pasir tersebut searah dengan gerakan angin. Gumuk pasir ini berkembang karena berubahnya arah angin dan terdapatnya celah diantara bentukan gumuk pasir awal, sehingga celah yang ada terus menerus mengalami erosi sehingga menjadi lebih lebar dan memanjang.

5.      Gumuk Pasir Bintang (star dune)
Gumuk pasir bintang adalah gumuk pasir yang dibentuk sebagai hasil kerja angin dengan berbagai arah yang bertumbukan. Bentukan awalnya merupakan sebuah bukit dan disekelilingnya berbentuk dataran, sehingga proses eolin pertama kali akan terfokuskan pada bukit ini dengan tenaga angin yang datang dari berbagai sudut sehingga akan terbentuk bentuklahan baru seperti bintang. Bentuk seperti ini akan hilang setelah terbentuknya bentukan baru disekitarnya.
          

3.      Bentuklahan Asal Struktural


Bentuk lahan struktural terbentuk karena adanya proses endogen atau proses tektonik, yang berupa pengangkatan, perlipatan, dan pensesaran. Gaya (tektonik) ini bersifat konstruktif (membangun), dan pada awalnya hampir semua bentuk lahan muka bumi ini dibentuk oleh kontrol struktural.
Bentukan ini dihasilkan dari struktur geologi. Terdapat dua tipe utama struktur geologi yang memberikan kontrol terhadap geomorfologi yaitu (1) struktur aktif yang menghasilkan bentukan baru, dan (2) struktur tidak aktif yang merupakan bentuk lahan yang dihasilkan oleh perbedaan erosi masa lalu. Satuan geomorfologi dari bentukan ini ada 13 macam, yaitu blok pegunungan patahan, blok perbukitan patahan, pegunungan antiklinal, perbukitan antiklinal, pegunungan sinklinal, perbukitan sinklinal, pegunungan monoklinal, perbukitan monoklinal, pegunungan kubah, perbukitan kubah, dataran tinggi, lembah sinklinal, dan sembul.
4.      Bentuklahan Asal Denudasional

Proses denudasional (penelanjangan) merupakan kesatuan dari proses pelapukan gerakan tanah erosi dan kemudian diakhiri prosespengendapan. Semua proses pada batuan baik secara fisik maupun kimia dan biologi sehingga batuan menjadi desintegrasi dan dekomposisi. Batuan yang lapuk menjadi soil yang berupa fragmen, kemudian oleh aktifitas erosi soil dan abrasi, tersangkut ke daerah yang lebih landai menuju lereng yang kemudian terendapkan.
Pada bentuk lahan asal denudasional, maka parameter utamanya adalah erosi atau tingkat. Derajat erosi ditentukan oleh : jenis batuannya, vegetasi, dan relief.
Bentukan ini terbentuk oleh proses gradasi yang di dalamnya terdapat dua proses yaitu (1) proses agradasi, dan (2) proses degradasi. Proses agradasi adalah berbagai proses sedimentasi dan pembentukan lahan baru sebagai material endapan dari proses degradasi. Sedangkan proses degradasi adalah proses hilangnya lapisan-lapisan dari permukaan bumi. Psoses degradasi adalah proses yang paling dominan yang terjadi. Satuan geomorfologi dari bentukan ini ada 8 macam, yaitu pegunungan terkikis, perbukitan terkikis, bukit sisa, bukit terisolasi, dataran nyaris, lereng kaki, pegunungan/ perbukitan dengan gerakan masa batuan, dan lahan rusak.
·         Faktor – Faktor Pembentuknya
Ø  Pengendapan (sedimentation)
Ø  Proses-proses pelapukan (weathering
Ø  Erosi /pengikisan dan gerak masa batuan (erosion and mass movement)
1.      Pegunungan Denudasional
Karakteristik :
§  Topografi bergunung dengan lereng curam hingga sangat curam (55 - >140%)
§  Selisih ketinggian dari tempat terendah hingga tempat tertinggi (relief) >500m
§  Tingkat pengikisan tergantung dari kondisi litologi, iklim, vegetasi penutup serta proses erosi ulang bekerja pada tempat tersebut
§  Umumnya mempunyai lembah dalam, berdinding terjal dan berbentuk V karena proses yang dominan adalah proses yang cenderung pendalaman lembah (valley deepenting)
                           
2.      Perbukitan Denudasional
Karakteristik :
Ø  Topografi berbukit dan bergelombang
Ø  Lereng berkisar antara 15 – 55%
Ø  Perbedaan tinggi relief (relief local) antara 50 - <500m
Ø  Umumnya terkikis sedang hingga kecil, tergantung pada kondisi litologi, iklim, vegetasi penutup baik alami maupun tataguna lahannya


3.      Nyaris Dataran (Peneplain)
Karakteristik :
a.      Proses denudasional yang bekerja terus-menerus pada pegunungan/perbukitan berakibat pada bentuk permukaan lahan yang hampir datar yang disebut nyaris dataran (peneplain)
b.      Dikontrol oleh batuan penyusun bentuklahan yang strukturnya berlapis (layers)
c.       Bila batuan penyusun tersebut massif dan mempunyai permukaan yang datar akibat proses erosi sering disebut permukaan planasi (planation surface). Kenampakan ini menunjukkan bahwa bentuklahan tersebut berumur tua

4.      Perbukitan Sisa Terpisah/Inselberg
Karakteristik :
a.      Bila bagian depan (dinding) suatu pegunungan/perbukitan mundur akibat proses denudasi dan lereng kaki (footslope) bertambah lebar secara terus-menerus akan meninggalkan lereng dinding bukit yang curam
b.      Umumnya berbatu tanpa penutup lahan (bare rock) dan banyak singkapan (outcrops)
c.       Dapat terjadi pada pegunungan/perbukitan terpisah maupun pada sekelompok pegunungan/perbukitan
d.      Mempunyai bentuk membulat
e.       Bila bentuknya relative memanjang dengan dinding bukit curam disebut monadnock

5.      Kerucut Talus Atau Kipas Aluvial (Talus Cone Or Alluvial Fan)
Karakteristik :
a.      Topografi berbentuk kerucut/kipas dengan lereng curam (35%)
b.      Secara individu fragmen batuan bervariasi dari ukuran pasir hingga blok, tergantung pada besarnya cliff dan batuan yang hancur
c.       Fragmen berukuran kecil terendapkan pada bagian atas kerucut (apex)
d.      Fragmen yang kasar karena beratnya akan mudah meluncur ke bawah dan terendapkan di bagian bawah talus


6.      Lereng Kaki (Foot Slope)
Karakteristik :
a.      Area memanjang dan relative sempit terletak di kaki pegunungan/perbukitan dengan topografi landai hingga berombak
b.      Mempunyai lereng dari landai hingga lembut (nearly flat to gentle)
c.       Tanpa hingga sedikit terkikis
d.      Terjadi pada kaki pegunungan dan lembah atau dasar cekungan (basin)
e.       Pada umumnya sering dilewati fragmen batuan hasil pelapukan daerah di atasnya ayng diangkut oleh tenaga pengankut (air) ke daerah yang lebih rendah (missal; cekungan)


5.      Bentuklahan Asal Gunungapi (Vulkanik)
                   
Volkanisme adalah berbagai fenomena yang berkaitan dengan gerakan magma yang bergerak naik ke permukaan bumi. Akibat dari proses ini terjadi berbagai bentuk lahan yang secara umum disebut bentuk lahan gunungapi atau vulkanik.
Satuan geomorfologi dari bentukan ini ada 10 macam, yaitu kerucut vulkanik, lereng vulkanik, kaki vulkanik, dataran vulkanik, padang lava, padang lahar, dataran antar vulkanik, bukit vulkanik terdenudasi, boka, dan kerucut parasiter.
6.      Bentuklahan Asal Fluvial


Bentuklahan asal proses fluvial terbentuk akibat aktivitas aliran sungai yang berupa pengikisan, pengangkutan dan pengendapan (sedimentasi) membentuk bentukan-bentukan deposisional yang berupa bentangan dataran aluvial (Fda) dan bentukan lain dengan struktur horisontal, tersusun oleh material sedimen berbutir halus.
7.      BENTUKLAHAN ASAL MARIN


Aktifitas marine yang utama adalah abrasi, sedimentasi, pasang-surut, dan pertemuan terumbu karang. Bentuk lahan yang dihasilkan oleh aktifitas marine berada di kawasan pesisir yang terhampar sejajar garis pantai. Pengaruh marine dapat mencapai puluhan kilometer ke arah darat, tetapi terkadang hanya beberapa ratus meter saja. Sejauh mana efektifitas proses abrasi, sedimentasi, dan pertumbuhan terumbu pada pesisir ini, tergantung dari kondisi pesisirnya. Proses lain yang sering mempengaruhi kawasan pesisir lainnya, misalnya : tektonik masa lalu, berupa gunung api, perubahan muka air laut (transgresi/regresi) dan litologi penyusun.
8.      Bentuklahan Asal Glasial



Bentukan ini tidak berkembang di Indonesia yang beriklim tropis ini, kecuali sedikit di puncak Gunung Jaya Wijaya, Papua. Bentuk lahan asal glasial dihasilkan oleh aktifitas es/gletser yang menghasilkan suatu bentang alam.
9.      Bentuk Lahan Asal Organik

Yakni suatu bentukan yang terjadi di dalam lingkungan laut oleh aktivitas organisme endapan batugamping cangkang dengan struktur tegar yang tahan terhadap pengaruh gelombang laut pada ekosistem bahari
10.  Bentuk Lahan Asal Organik

Antropogenik merupakan proses atau akibat yang berkaitan dengan dengan aktivitas manusia. Sehingga bentuk lahan antropogenik dapat disebut sebagai bentuk lahan yang terjadi akibat aktivitas manusia. Aktivitas tersebut dapat berupa aktivitas yang telah disengaja dan direncanakan untuk membuat bentuk lahan yang baru dari bentuk lahan yang telah ada maupun aktivitas oleh manusia yang secara tidak sengaja telah merubah bentuk lahan yang telah ada. Bentuk lahan antropogenik dapat dibentuk dari bentuk-bentuk lahan yang telah ada. Misalnya bentuk lahan marin yang dapat berubah menjadi pelabuhan dan pantai reklamasi seperti yang terdapat pada pantai Marina Semarang, dan bentuk lahan struktural dan fluvial dapat berubah menjadi waduk serta bentuk lahan struktural dan denudasional dari bukit yang telah mengalami perubahan bentuk akibat aktivitas manusia seperti yang terjadi di bukit Ngoro Mojokerto.
Contoh dari bentuk lahan antropogenik berbeda dengan contoh dari penggunaan lahan. Misalnya sawah dan permukiman, kedua contoh ini bukan merupakan bentuk lahan antropogenik melainkan termasuk pada bentuk penggunaan lahan atau landuse karena sawah dan permukiman tidak merubah bentuk lahan yang telah ada, sawah dan permukiman hanya termasuk upaya pemanfaatan dari permukaaan bentuk lahan. Bisa saja sawah ada di dataran bentuk lahan aluvial, di lereng gunung, atau bahkan di gumuk pasir. Begitu juga dengan permukiman juga bisa terdapat di dataran rendah, dataran tinggi, lembah, maupun kaki lereng, namun keberadaan sawah dan permukiman tersebut tidak bisa digolongkan dalam bentuk lahan antropogenik.
Pemanfaatan dan pengusahaan lahan pantai oleh manusia banyak menimbulkan perubahan fisik bentang lahan yang nyata. Misalnya konstruksi bangunan pantai yang berbentuk pelabuhan. Pelabuhan adalah sebuah fasilitas di ujung samudera, sungai, atau danau untuk menerima kapal dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. Pelabuhan biasanya memiliki alat-alat yang dirancang khusus untuk memuat dan membongkar muatan kapal-kapal yang berlabuh. Pelabuhan termasuk lahan antropogenik karena bentuknya telah merubah bentuk lahan pesisir sebelumnya.
Di bawah ini hal-hal yang penting agar pelabuhan dapat berfungsi:
·         Adanya kanal-kanal laut yang cukup dalam (minimum 12 meter)
·         Perlindungan dari angin, ombak, dan petir
·         Akses ke transportasi penghubung seperti kereta api dan truk.
Pembangunan pelabuhan hendaknya memperhatikan aspek lokasi agar pelabuhan dapat berfungsi secara efektif dan tidak mengancam lahan sekitar. Misalnya pembangunan pelabuhan Indonesia cabang Pontianak yang dibangun di tepi sungai yang dapat menyebabkan pendangkalan yang disebabkan oleh erosi daerah hulu.




BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Bentuklahan adalah bagian dari permukaan bumi yang memiliki bentuk topografiskhas, akibat pengaruh kuat dari proses alam dan struktur geologis pada material batuan dalam ruang dan waktu kronologis tertentu.
Verstappen (1983) telah mengklasifikasi bentuklahan berdasarkan genesisnya menjadisepuluh klas utama. Kesepuluh klas bentuklahan utama itu adalah sebagai berikut :
1.      Bentuklahan asal structural
2.      Bentuklahan asal vulkanik 
3.      Bentuklahan asal denudasional
4.      Bentuklahan asal fluvial
5.      Bentuklahan asal marine
6.      Bentuklahan asal glacial
7.      Bentuklahan asal Aeolian
8.      Bentuklahan asal solusional (pelarutan)
9.      Bentuklahan asal organik 
10.  Bentuklahan asal antropogenik.
Bentuk lahan asal vulkanik, merupakan bentuk lahan yang terjadi akibat aktivitas gunung api, contohnya antara lain kerucut gunung api, kawah, kaldera, medan lava.
Bentuk lahan asal denudasi, merupakan bentuk lahan yang dihasilkan oleh proses degradasi seperti erosi dan longsor, contohnya bkit sisa, peneplain, lahan rusak.
Bentuk lahan asal fluvial, merupakan bentuk lahan yang terjadi akibat aktivitas sungai, contohnya antara lain dataran banjir, tanggul alam, teras sungai. Karena sebagian besar sungai bermuara di laut maka sering terjadi bentuk lahan akibat kombinasi proses fluvial dan marine.
Bentuk lahan asal marine, merupakan bentuk lahan yang dihasilkan oleh proses laut seperti tenaga gelombang, pasang dan arus. Contohnya gisik pantai (beach ridge), bura (spit), tombolo, laguna.
Bentuk lahan asal glasial, merupakan bentuk lahan yang dihasilkan oleh aktivitas gletser (gerakan massa es), contohnya adalah lembah menggantung (hanging valley), morena, drumlin.
Bentuk lahan asal aeolin, merupakan bentuk lahan yang dihasilkan oleh proses angin, contohnya gumiuk pasir yang memiliki berbagai bentuk seperti barchan, parabolik, longitudinal, transversal,bintang.
Bentuk lahan asal solusional (pelarutan), merupakan bentuk lahan yang dihasilkan oleh pelarutan batuan. Banyak terdapat pada daerah kapur (karst), contohnya adalah kubah karst, dolina, uvala, polje, gua karst.
Bentuk lahan asal organik, merupakan bentuk lahan yang dihasilkan oleh aktivitas organisme contohnya adalah terumbu karang dan pantai bakau.
Bentuk lahan asal antropogenik merupakan bentuk lahan yang dihasilkan oleh aktivitas manusia contohnya kota, pelabuhan.

B.     Saran
Dalam makalah ini tentunya masih banyak kekurangan penjelasan tentang batuan sedimen. Untuk itu bagi pembaca agar mencari literatur yang lebih lengkap.Untuk mahasiswa agar kiranya pembuatan makalah seperti kami sebaiknya menyiapkan prossedur data yang lengkap sesuai permintaan dosen, supaya hasilnya memuaskan.
Untuk Dosen agar lebih spesifik dalam menjelaskan agar mahasiswa dapat mengerti dalam pembuatan makalah tentang batuan sedimen.
Meski kami telah berusaha semaksimal mungkin agar makalah ini sempurna, namun, masih banyah kekurangan yang meski kami harus benahi. Untuk itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga orang yang membantu dibalas oleh Allah SWT. Amien…….

Sabtu, 08 Desember 2012

Komponen - Komponen Peta


Peta memiliki kelengkapan penting agar mudah dibaca dan dipahami.
Kelengkapan tersebut dinamakan komponen peta. Komponen-komponen
peta antara lain sebagai berikut:
1. Judul peta
Judul peta merupakan identitas atau nama untuk menjelaskan isi atau
gambar peta. Judul peta biasanya terletak di bagian atas peta. Judul peta
merupakan komponen yang penting. Biasanya sebelum memperhatikan
isi peta, pasti seseorang terlebih dahulu membaca judulnya.
Legenda merupakan keterangan yang berisi gambar-gambar atau
simbol-simbol beserta artiny. Legenda biasanya terletak di bagian pojok
kiri bawah peta.

3. Skala
Skala merupakan perbandingan jarak antara dua titik pada peta
dengan jarak sebenarnya di permukaan bumi. Misalnya skala 1 : 200.000.
Skala ini artinya 1 cm jarak pada peta sama dengan 200.000 cm atau 2
km jarak sebenarnya.

4. Simbol
Simbol merupakan lambang-lambang atau gambar yang menunjukkan
obyek alam atau buatan. Simbol peta harus memenuhi tiga syarat
yakni sederhana, mudah dimengerti, dan bersifat umum. Berikut ini adalah
simbol-simbol yang biasa digunakan pada peta.


 

5. Mata angin
Mata angin merupakan pedoman atau petunjuk arah
mata angin.
Mata angin pada peta biasanya berupa tanda panah yang menunjuk ke
arah utara. Mata angin sangat penting keberadaanya supaya tidak terjadi
kekeliruan arah.

6. Garis astronomis
Garis astronomis merupakan garis khayal di atas permukaan bumi.
Garis astronomis terdiri dari dari garis lintang dan garis bujur. Garis lintang
merupakan garis dari timur ke barat sedangkan garis bujur merupakan
garis dari utara ke selatan.

7. Garis tepi
Garis tepi merupakan garis yang dibuat mengelilingi gambar peta
untuk menunjukkan batas peta tersebut.

8. Tahun pembuatan peta
Tahun pembuatan peta menunjukkan kapan peta tersebut dibuat. Dari
tahun pembuatan kita dapat mengetahui peta tersebut masih sesuai atau
tidak untuk digunakan saat ini.

9. Inset peta
Inset peta merupakan gambar peta yang ingin diperjelas atau karena
letaknya di luar garis batas peta. Inset peta digambar bila diperlukan. Inset
peta disebut juga peta sisipan.

10. Tata warna
Tata warna merupakan pewarnaan pada peta untuk membedakan
obyek satu dengan yang lainnya. Misalnya warna coklat menunjukkan
dataran tinggi, hijau menunjukkan dataran rendah dan biru untuk
menunjukkan wilayah perairan.
Untuk memperjelas tentang komponen-komponen peta perhatikan
gambar peta berikut:



 


 


1. Judul Peta
Pada peta yang pernah Anda lihat, di bagian manakah biasanya judul peta diletakkan? Judul peta memuat isi peta. Dari judul peta Anda dapat segera mengetahui data dan daerah mana yang tergambar dalam peta tersebut.
Contoh: - peta penyebaran penduduk pulau Jawa.
-  peta bentuk muka bumi Asia.
-  peta Indonesia.

Judul peta merupakan komponen yang sangat penting. Biasanya, sebelum pembaca memperhatikan isi peta, pasti terlebih dahulu judul yang dibacanya. Judul peta hendaknya memuat/mencerminkan informasi yang sesuai dengan isi peta. Selain itu, judul peta jangan sampai menimbulkan penafsiran ganda pada peta.

Judul peta biasanya diletakkan di bagian tengah atas peta. Tetapi judul peta dapat juga diletakkan di bagian lain dari peta, asalkan tidak mengganggu kenampakan dari keseluruhan peta.

2.  Skala Peta
Selain judul Anda juga akan menemukan skala pada peta. Skala merupakan ciri yang membedakan peta dengan gambar lain. Skala peta sangat erat kaitannya dengan data yang disajikan.

Bila ingin menyajikan data secara rinci, maka gunakanlah skala besar, (1 : 5.000 sampai
1 : 250.000). Sebaliknya bila ingin menunjukkan data secara umum, gunakanlah skala kecil (1 : 500.000 sampai 1 : 1.000.000 atau lebih). Skala pada peta adalah perbandingan jarak antara dua titik di peta dengan jarak sebenarnya di permukaan bumi. Contoh: skala
1 : 500.000 artinya 1 cm jarak di peta sama dengan 500.000 cm ( 5Km) jarak sebenarnya di permukaan bumi. Skala peta akan dibahas lebih rinci pada modul 3 nanti.

3.  Proyeksi Peta
Untuk menghindari terjadinya kesalahan yang lebih besar, dalam ukuran (luas, jarak) bentuk permukaan bumi pada peta, maka dalam pembuatan peta digunakan proyeksi peta. Proyeksi peta adalah teknik pemindahan bentuk permukaan bumi yang lengkung (bulat) ke bidang datar.

4.  Legenda/Keterangan Peta
Pada peta yang pernah Anda lihat, adakah legenda/ keterangan petanya? Legenda juga merupakan komponen  penting pada peta. Karena peta tanpa legenda.keterangan petanya, sulit untuk dibaca. Jadi agar mudah dibaca dan ditafsirkan, peta harus dilengkapi dengan legenda/ keterangan. Legenda menerangkan arti dari simbol-simbol yang terdapat dalam peta.

Contoh: legenda/keterangan peta.

Legenda biasanya diletakkan di pojok kiri bawah peta. Selain itu legenda peta dapat juga diletakkan pada bagian lain peta, sepanjang tidak mengganggu kenampakan peta secara keseluruhan.

5.  Petunjuk Arah/Tanda Orientasi
Petunjuk arah juga penting artinya pada peta. Gunanya untuk menunjukkan arah Utara, Selatan, Timur dan Barat. Tanda orientasi perlu dicantumkan pada peta untuk menghindari kekeliruan. Petunjuk arah pada peta biasanya berbentuk tanda panah yang menunjuk ke arah Utara. Petunjuk ini diletakkan di bagian mana saja dari peta, asalkan tidak menganggu kenampakan peta.

6.  Simbol dan Warna
Agar pembuatan peta dapat dilakukan dengan baik, ada dua hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu simbol dan warna. Sebelum dibahas mengenai simbol dan warna pada peta ini. Uraian berikut ini akan menjelaskan satu demi satu mengenai pengertian simbol dan warna tersebut.

a.  Simbol Peta
Pada peta, Anda juga akan melihat simbol-simbol, gunanya agar informasi yang disampaikan tidak membingungkan. Simbol-simbol dalam peta harus memenuhi syarat, sehingga dapat menginformasikan hal-hal yang digambarkan dengan tepat. Syarat-syarat tersebut adalah: sederhana, mudah dimengerti dan bersifat umum (seperti disepakati oleh para kartografer).

Macam-macam simbol peta.

1)  Macam-macam simbol peta berdasarkan bentuknya.
Kalau Anda perhatikan, pada sebuah peta banyak terdapat simbol-simbol. Berikut ini kita akan pelajari mengenai simbol-simbol berdasarkan bentuknya.

a)  Simbol titik, digunakan untuk menyajikan tempat atau data posisional, seperti simbol kota, titik trianggulasi (titik ketinggian) tempat dari permukaan laut. Contoh: simbol titik.

b)  Simbol garis, digunakan untuk menyajikan data geografis seperti simbol sungai, batas wilayah, jalan, dsb.
Contoh: simbol garis.

c)   Simbol luasan (area), digunakan untuk menunjukkan kenampakan area seperti: padang pasir, rawa, hutan.
Contoh: simbol luasan (area).

d)  Simbol aliran, digunakan untuk menyatakan alur atau gerak.
Contoh: simbol aliran.

e)  Simbol batang, digunakan untuk menyatakan suatu harga/dibandingkan dengan harga/nilai lainnya.
Contoh: simbol batang.

f)    Simbol lingkaran, digunakan untuk menyatakan kuantitas (jumlah) dalam bentuk prosentase.
Contoh: simbol lingkaran

g)  Simbol bola, digunakan untuk menyatakan isi (volume), makin besar simbol bola menunjukkan isi (volume) makin besar dan sebaliknya makin kecil simbol bola berarti isi (volume) makin kecil.
Contoh: simbol bola

2)  Macam-macam simbol peta berdasarkan sifatnya.

Simbol-simbol yang Anda lihat pada peta, ada yang menyatakan jumlah dan ada yang hanya membedakan. Berdasarkan sifatnya, simbol peta dibedakan menjadi dua macam yaitu: simbol yang bersifat kualitatif dan bersifat kuantitatif. Simbol berdasarkan sifatnya.

a)  Simbol yang bersifat kualitatif.
Simbol ini digunakan untuk membedakan persebaran benda yang digambarkan. Misalnya    untuk menggambarkan daerah penyebaran hutan, jenis tanah, penduduk dan lainnya.

b)  Simbol yang bersifat kuantitatif. Simbol ini digunakan untuk membedakan atau menyatakan jumlah.
Contoh: simbol yang bersifat kuantitatif.

3)  Macam-macam simbol berdasarkan fungsinya.

Penggunaan simbol pada peta tergantung fungsinya, untuk menggambarkan bentuk-bentuk muka bumi di daratan, di perairan atau bentuk-bentuk budaya manusia.
Berdasarkan fungsinya simbol peta dapat dibedakan menjadi: simbol daratan, simbol perairan dan simbol budaya.Simbol daratan, digunakan untuk simbol-simbol permukaan bumi di   daratan.
 Contoh: gunung, pegunungan, gunung api.

b)  Simbol perairan, digunakan untuk simbol-simbol bentuk perairan.
Contoh: simbol perairan.

c)   Simbol budaya, digunakan untuk simbol- simbol, bentuk hasil budaya.
Contoh: simbol budaya.

b.  Warna
Perhatikanlah peta yang ada di sekolah Anda, warna apa saja yang ada pada peta tersebut? Peta yang berwarna akan lebih indah dilihat dan kenampakan yang ingin disajikan juga kelihatan lebih jelas.

Penggunaan warna pada peta harus sesuai maksud/tujuan si pembuat peta dan kebiasaan umum.
Contoh: -  laut, danau digunakan warna biru.
-  temperatur (suhu) digunakan warna merah atau coklat.
-  curah hujan digunakan warna biru atau hijau.
-  dataran rendah (pantai) ketinggian 0 sampai 200 meter dari permukaan laut digunakan warna hijau.
-  daerah pegunungan tinggi/dataran tinggi (2000 sampai 3000 meter)
digunakan warna coklat tua.
Warna berdasarkan sifatnya, ada dua macam yaitu warna bersifat kualitatif dan bersifat kuantitatif.

7.  Sumber dan Tahun Pembuatan Peta
Bila Anda membaca peta, perhatikan sumbernya. Sumber memberi kepastian kepada pembaca peta, bahwa peta tersebut bukan hasil rekaan dan dapat dipercaya. Selain sumber, perhatikan juga tahun pembuatannya. Pembaca peta dapat mengetahui bahwa peta itu masih cocok atau tidak untuk digunakan pada masa sekarang atau sudah kadaluarsa karena sudah terlalu lama.


Komponen - Komponen Peta

Peta memiliki kelengkapan penting agar mudah dibaca dan dipahami.
Kelengkapan tersebut dinamakan komponen peta. Komponen-komponen
peta antara lain sebagai berikut:
1. Judul peta
Judul peta merupakan identitas atau nama untuk menjelaskan isi atau
gambar peta. Judul peta biasanya terletak di bagian atas peta. Judul peta
merupakan komponen yang penting. Biasanya sebelum memperhatikan
isi peta, pasti seseorang terlebih dahulu membaca judulnya.
Legenda merupakan keterangan yang berisi gambar-gambar atau
simbol-simbol beserta artiny. Legenda biasanya terletak di bagian pojok
kiri bawah peta.

3. Skala
Skala merupakan perbandingan jarak antara dua titik pada peta
dengan jarak sebenarnya di permukaan bumi. Misalnya skala 1 : 200.000.
Skala ini artinya 1 cm jarak pada peta sama dengan 200.000 cm atau 2
km jarak sebenarnya.

4. Simbol
Simbol merupakan lambang-lambang atau gambar yang menunjukkan
obyek alam atau buatan. Simbol peta harus memenuhi tiga syarat
yakni sederhana, mudah dimengerti, dan bersifat umum. Berikut ini adalah
simbol-simbol yang biasa digunakan pada peta.

5. Mata angin
Mata angin merupakan pedoman atau petunjuk arah
mata angin.
Mata angin pada peta biasanya berupa tanda panah yang menunjuk ke
arah utara. Mata angin sangat penting keberadaanya supaya tidak terjadi
kekeliruan arah.

6. Garis astronomis
Garis astronomis merupakan garis khayal di atas permukaan bumi.
Garis astronomis terdiri dari dari garis lintang dan garis bujur. Garis lintang
merupakan garis dari timur ke barat sedangkan garis bujur merupakan
garis dari utara ke selatan.

7. Garis tepi
Garis tepi merupakan garis yang dibuat mengelilingi gambar peta
untuk menunjukkan batas peta tersebut.

8. Tahun pembuatan peta
Tahun pembuatan peta menunjukkan kapan peta tersebut dibuat. Dari
tahun pembuatan kita dapat mengetahui peta tersebut masih sesuai atau
tidak untuk digunakan saat ini.

9. Inset peta
Inset peta merupakan gambar peta yang ingin diperjelas atau karena
letaknya di luar garis batas peta. Inset peta digambar bila diperlukan. Inset
peta disebut juga peta sisipan.

10. Tata warna
Tata warna merupakan pewarnaan pada peta untuk membedakan
obyek satu dengan yang lainnya. Misalnya warna coklat menunjukkan
dataran tinggi, hijau menunjukkan dataran rendah dan biru untuk
menunjukkan wilayah perairan.
Untuk memperjelas tentang komponen-komponen peta perhatikan
gambar peta berikut:



 Gambar Komponen Peta




 


Komponen peta terdiri dari :
  1. Isi peta
Isi peta menunjukan isi dari makna ide penyusun peta yang akan disampaikan kepada pengguna peta.
Kalau ide yang disampaikan tentang perbedaan curah hujan , isi peta tentunya berupa isohyet.
      2. Judul peta
Judul peta harus mencerminkan isi peta. Isi peta berupa isohyet, tentu judul petanya menjadi “Peta Distribusi Curah Hujan”, dan sebagainya.
  1. Sekala peta dan Simbol Arah
Sekala sangat penting dicantumkan untuk melihat tingkat ketelitian dan kedetailan objek yang dipetakan. Sebuah belokan sungai akan tergambar jelas pada peta 1:10.000 dibandingkan dengan pada peta 1:50.000 misalnya. Kemudian bentuk-bentuk pemukiman akan lebih rinci dan detail pada sekala 1:10.000 dibandingkan peta sekala 1:50.000.
Simbol arah dicantumkan dengan tujuan untuk orientasi peta. Arah utara lazimnya mengarah pada bagian atas peta. Kemudian berbagai tata letak tulisan mengikuti arah tadi, sehingga peta nyaman dibaca dengan tidak membolak-balik peta. Lebih dari itu, arah juga penting sehingga si pemakai dapat dengan mudah mencocokan objek di peta dengan objek sebenarnya di lapangan.
  1. Legenda atau Keterangan
Agar pembaca peta dapat dengan mudah memahami isi peta, seluruh bagian dalam isi peta harus dijelaskan dalam legenda atau keterangan.
  1. Inzet dan Index peta
Peta yang dibaca harus diketahui dari bagian bumi sebelah mana area yang dipetakan tersebut.
Inzet peta merupakan peta yang diperbersar dari bagian belahan bumi. Sebagai contoh, kita mau memetakan pulau Jawa, pulau Jawa merupakan bagian dari kepulauan Indonesia yang diinzet.
Sedangkan index peta merupakan sistem tata letak peta , dimana menunjukan letak peta yang bersangkutan terhadap peta yang lain di sekitarnya.
  1. Grid
Dalam selembar peta sering terlihat dibubuhi semacam jaringan kotak-kotak atau grid system.
Tujuan grid adalah untuk memudahkan penunjukan lembar peta dari sekian banyak lembar peta dan untuk memudahkan penunjukan letak sebuah titik di atas lembar peta.
Cara pembuatan grid yaitu, wilayah dunia yang agak luas, dibagi-bagi kedalam beberapa kotak. Tiap kotak diberi kode. Tiap kotak dengan kode tersebut kemudian diperinci dengan kode yang lebih terperinci lagi dan seterusnya.
Jenis grid pada peta-peta dasar (peta topografi) diIndonesiayaitu antara lain :
Kilometerruitering (kilometer fiktif) yaitu lembar peta dibubuhi jaringan kotak-kotak dengan satuan kilometer.
Disamping itu ada juga grid yang dibuat oleh tentara inggris dan grid yang dibuat oleh Amerika (American Mapping System).
Untuk menyeragamkan sistem grid, Amerika Serikat sedang berusaha membuat sistem grid yang seragam dengan sistem UTM grid system dan UPS grid system (Universal Transverse Mercator dan Universal Polar Stereographic Grid System).
  1. Nomor peta
Penomoran peta penting untuk lembar peta dengan jumlah besar dan seluruh lembar peta terangkai dalam satu bagian muka bumi.
  1. Sumber/Keterangan Riwayat Peta
Sumber ditekankan pada pemberian identitas peta, meliputi penyusun peta, percetakan,sistem proyeksi peta, penyimpangan deklinasi magnetis, tanggal/tahun pengambilan data dan tanggal pembuatan/pencetakan peta, dan lain sebagainya yang memperkuat identitas penyusunan peta yang dapat dipertanggungjawabkan.

https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTKyx9jZ4BInGAlYK1a2hTSBcwv_oWzjkOvHF9ZZ_I9xoAVGhri_Ahttps://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRYhbEZIL683XUtMZ7zfe6VTRCtf9Du1PyZP9sA1RSCBxJXed9i-g

Jumat, 07 Desember 2012

TEORI LEMPENG TEKTONIK Dan Memahami Pergerakan Lempeng


Ada empat tipe pertemuan lempeng:


  • Pertemuan divergen: pertemuan dimana kulit/kerak bumi yang baru terbentuk ketika lempeng yang berdekatan saling menjauhi.
  • Pertemuan konvergen: pertemuan dimana lapisan kulit bumi hancur ketika sebuah lempeng menujam ke bawah lempeng lainnya.
  • Pertemuan transformasi: pertemuan dimana tidak ada kulit bumi yang terbentuk atau dihancurkan, karena lempeng-lempeng bergesekan satu sama lain secara horisontal.
  • Zona-zona perbatasan antar lempeng: sabuk lebar dimana pertemuan-pertemuan tidak secara jelas didefenisikan dan interaksi antar lempeng tidak jelas.


Illustrasi tipe utama dari pertemuan

Pertemuan Divergen

Pertemuan divergen terjadi di sepanjang pusat pergerakan dimana kulit baru yang tercipta dari magma mantel bumi yang naik ke atas terbentuk di saat lempeng-lempeng bergerak saling menjauhi. Bayangkan dua sabuk konveyor raksasa yang saling berhadapan dan kemudian bergerak ke arah yang berlawanan sambil membawa kulit baru lautan yang baru terbentuk menjauhi puncak bubungan.
Ilustrasi yang lebih jelas bisa dilihat pada animasi ini.
Pertemuan divergen yang paling terkenal adalah bubungan Atlantik-tengah (Mid-Atlantic Ridge). Rangkaian pegunungan bawah air ini, yang dimulai dari Samudera Arktik menerus ke ujung selatan Afrika,  bukan satu-satunya sistem bubungan tengah-samudera yang mengitari bumi. Rasio penyebaran sepajang bubungan Atlantik-tengah adalah sekitar 2,5 cm/tahun, atau 25 kilo meter dalam satu juta tahun. Rasio ini mungkin kecil bagi manusia, akan tetapi karena prosesnya sudah berlangsung jutaan tahun, pergerakan yang dihasilkannya sudah mencapai ribuan kilometer. Penyebaran dasar lautan yang telah terjadi sekitar 100-200 juta tahun telah mengakibatkan terbentuknya  samudera Atlantik yang kita kenal saat ini yang asalnya adalah sebuah jalur masuk air yang mungil di antara benua Eropa, Afrika dan Amerika.
Mid-Atlantic Ridge gif
Bubungan tengah-Atlantik
Negara vulkanik Islandia, yang berada tepat di belahan bubungan Atlantik-tengah, adalah sebuah laboratorium darat alami  bagi para ilmuwan untuk mempelajari proses dan kejadian-kejadian yang juga terjadi di bawah laut di sepanjang sebaran bubungan. Islandia terbelah di sepanjang pusat pergerakan antara lempeng  Amerika Utara dan lempeng Eurasia, dimana Amerika Utara bergerak relatif ke arah barat dan Eurasia ke arah timur.


Peta yang menunjukkan terbelahnya Islandia di sepanjang Bubungan Atlantik Tengah yang memisahkan lempeng Amerika Utara dengan Lempeng Eurasia. Peta juga menunjukkan ibukota Islandia, Reykjavik, area Thingvellir, dan lokasi-lokasi vulkanik aktif (segitiga merah), termasuk Krafla.
Konsekuensi pergerakan lempeng akan terlihat jelas di sekitar daerah vulkanik Krafla, sebuah daerah di timur-laut Islandia. Disini retakan yang ada semakin membesar dan retakan baru timbul dalam beberapa bulan. Dari tahun 1975 hingga 1984 tidak terbilang kejadian permukaan retak sepanjang zona retakan Krafla. Beberapa retak permukaan ini didampingi oleh aktivitas vulkanik; permukaan tanah bisa naik hingga 1-2 m sebelum akhirnya runtuh kembali, menyiratkan erupsi yang bakal terjadi. Antara tahun 1975 hingga 1984 pergeseran yang terjadi akibat retakan tersebut sekitar 7m.
lava fountains gif
Semburan Lava , Volkano Krafla
Thingvellir fissure zone gif
Zona Retakan Thingvellir , Islandia
Di timur Afrika, proses penyebaran telah memisahkan Arab Saudi menjauhi Benua Afrika, dan menciptakan Laut Merah. Pemisahaan pada pertemuan lempeng Afrika dan Lempeng Arabia disebut Simpang Tiga (Triple Junction) oleh para geolog, dimana Laut Merah bertemu dengan Teluk Aden.  Pusat Penyebaran yang baru mungkin saja terbentuk di bawah Afrika di sepanjang Zona Retak Timur Afrika. Jika kulit benua tertarik melebihi kapasitasnya, retak akibat tarik akan muncul di permukaan bumi. Magma akan naik melalui retakan yang melebar, kadang meletus dan membentuk vulkanik. Naiknya magma, apakah meletus atau tidak, akan menaikkan tegangan di kulit bumi dan akan mengakibatkan tambahan retakan dan pada akhirnya menciptakan zona retakan di permukaan.
East Africa volcanoes gif
Volkano aktif bersejarah, Afrika Timur
Afrika Timur mungkin saja menjadi Samudera besar berikutnya yang ada di bumi. Interaksi lempeng di daerah tersebut akan memberikan kesempatan kepada ilmuwan untuk mempelajari bagaimana Samudera Atlantik terjadi sekita 200 juta tahun yang lalu. Jika penyebaran terus berlanjut, para geolog percaya, tiga lempeng yang bertemu akan terpisah sempurna. Air dari Samudera Hindia akan membanjiri daerah penyebaran tersebut dan akhirnya akan terbentuk sebuah pulau besar di ujung paling timur dari Afrika.
Puncah kawah of ‘Erta ‘Ale
Oldoinyo erupts gif
Oldoinyo Lengai, Zona retak Afrika Timur

Pertemuan Konvergen

Ukuran dari bumi tidak berubah signifikan selama 600 juta tahun terakhir, dan sepertinya tidak berubah sejak terbentuknya sekitar 4,6 milyar tahun yang lalu. Tidak adanya perubahan ukuran ini menyiratkan adanya penghancuran kulit bumi dengan rasio yang sama dengan terbentuknya kulit baru. Penghancuran (daur ulang) dari kulit bumi ini terjadi di pertemuan lempeng dimana lempeng bergerak mendekati satu sama lain, dan kadang-kadang sebuah pelat tenggelam atau menujam di bawah lempeng lainnya. Lokasi dimana penujaman terjadi disebut zona subduksi.
Tipe konvergensi—disebut juga tabrakan lambat—tergantung dari jenis litosfer yang terlibat. Konvergensi dapat terjadi antar lempeng samudera dengan lempeng benua yang sangat besar.

Konvergensi Samudera-benua

Seandainya secara magis kita bisa mengeringkan Samudera Pasifik, kita akan melihat penampakan yang luar biasa—sejumlah palung tipis yang panjang, membujur ribuan kilometer dengan kedalaman 8 hingga 10 km menujam masuk ke dalam dasar  samudera. Palung-palung adalah bagian terdalam dari dasar samudera dan tercipta akibat subduksi (penujaman).

Lempeng Nazca didorong dan menujam ke bagian bawah lempeng benua dari lempeng Amerika Selatan. Pada gilirannya, daerah tubrukan pada sisi lempeng Amerika Selatan naik, menciptakan peguungan Andes, tulang punggung benua tersebut. Gempa kuat dan merusak dan naiknya ketinggian pegunungan secara cepat sangat sering terjadi disini. Walaupun lempeng Nazca secara keseluruhan menujam dengan sangat lambat ke palung, bagian paling dalam dari lempeng yang menujam bisa terpecah ke bagian yang lebih kecil dan diam terkunci untuk periode yang lama. Apabila bagian yang terkunci tersebut kemudian terlepas akibat gerakan lempeng, akan mengakibatkan gempa yang sangat besar. Gempa-gempa tersebut sering diiringi dengan kenaikan dataran sebesar beberapa meter.
Nazca-SoAm gif
Convergensi lempeng  Nazca dan Lempeng Amerika Selatan
Pada Juli 1994, gempa dengan kekuatan 8.3 SR terjadi sekitar 320 km di arah timur laut La Paz, Bolivia. Kedalaman gempa 636 km. Gempa yang terjadi di zona subduksi lempeng Amerika Selatan dan Nazca, adalah gempa paling dalam yang pernah direkam di Amerika Selatan. Akan tetapi meski gempa ini dapat dirasakan di Toronto, Canada, kerusakan yang ditimbulkan sangat kecil diakibatkan oleh kedalamannya.
Cincin Api 
Konvergensi Samudera-Benua juga memelihara vulkanik aktif bumi, seperti terlihat di Pegunungan Andes. Aktivitas erupsi berkaitan nyata dengan subduksi.

Konvergensi Samudera-Samudera

Sama dengan kovergensi samudera-benua, ketika dua lempeng samudera bertemu, salah satu pada umumnya akan menujak ke bagian lainnya dan akibatnya palung terbentuk. Contohnya adalah Palung Mariana (yang sejajar dengan kepulauan Mariana), yang terbentuk akibat konvergensi gerakan cepat lempeng Pasifik dengan gerakan lambat lempeng Filipina. The Challenger Deep di selatan palung Mariana terbenam ke dalam interior bumi (hampir 11.000 m). Bandingkan dengan Gunung Everest, gunung tertinggi di bumi, yang tingginya dari permukaan laut sekitar 8.854 m.

Proses subduksi pada kovergensi lempeng samudera-samudera juga menghasilkan formasi vulkanik. Selama jutaan tahun, erupsi lava dan bongkahan vulkanik terjebak di dasar samudera hingga vulkanik bawah laut naik di atas permukaan laut untuk membentuk kepulauan vulkanik. Volkano tersebut biasanya membentuk rantaian yang disebut busur kepulauan (island arc).  Seperti namanya, busur kepulauan volkano, yang hampir sejajar dengan palung, biasa akan berbentuk kurva. Palung adalah kunci untuk mengetahui terbentuknya busur kepulauan seperti kepulauan Mariana dan Aleutian dan mengapa kepulauan tersebut banyak mengalami gempa yang kuat. Magma yang membentuk busur kepulauan diproduksi oleh bagian lempeng menujam yang leleh  dan/atau bagian atas listosfer samudera. Lempeng yang menujam merupakan sumber tegangan ketika dua lempeng saling berinteraksi, dan pada akhirnya menimbulkan gempa sedang dan kuat.

Konvergensi Benua-benua.

Rangakaian  pegunungan Himalaya secara dramatis dan spektakuler memperlihatkan konsekuensi dari lempeng tektonik. Ketika dua lempeng benua bertemu, tidak akan ada yang menujam disebabkan batuan benua yang relatif ringan, dan seperti tabrakan dua gunung es, gerakan ke bawah akan tertahan. Biasanya, kulit bumi cenderung menggelembung dan didorong ke atas atau ke samping.
Tabrakan India dengan Asia sekitar 50 juta tahun yang lalu menyebabkan lempeng Eurasia melipat di atas lempeng India. Setelah tabrakan, konvergensi dari dua lempeng tersebut terus menekan lipatan hingga terbetuknya Pegunungan Himalaya dan Dataran tinggi Tibet yang kita kenal saat ini. Kebanyakan pertumbuhannya terjadi selama 10 juta tahun belakangan.
Himalaya, berpuncak hingga ketinggian 8.854 m dari permukaan laut adalah pegunungan tertinggi di bumi, dan dataran Tibet dengan rata-rata tinggi 4.600 m, lebih tinggi dibandingkan semua puncak di pegunungan Alpen (kecuali Puncak Mont Blanc dan Monte Rosa).


Atas: Tabrakan antara lempeng India dan Eurasia mendorong Himalaya dan dataran Tibet. Bawah: Potongan yang dibuat kartunis yang menunjukkan pertemuan kedua lempeng sebelum dan sesudah tabrakan. Titik referens (busur sangkar kecil) menunjukkan jumlah kenaikan titik  imaginer di kulit bumi pada saat proses pembentukan pegunungan.

india.sidebar
| Himalaya: Tabrakan dua benua |

Pertemuan Transformasi.

Zona pertemuan dua pelat yang bergesekan secara horisontal satu sama lain disebut pertemuan patahan-transformasi, atau secara sederhana disebut pertemuan transformasi. Konsep patahan-transformasi diusulkan oleh geofisikawan Kanada, J. Tuzo Wilson, yang menyatakan bahwa patahan besar atau zona retak menghubungkan dua pusat pergerakan (pertemuan lempeng divergen) atau, sangat jarang, pertemuan palung-palung (pertemuan lempeng konvergen). Kebanyakan patahan-transformasi terjadi di dasar samudera. Biasanya terjadi untuk menyeimbangkan pergerakan bubungan yang aktif, menghasilkan lempeng zig-zag, dan umumnya sering mengalami gempa-gempa dangkal. Akan tetapi sebagian kecil berada di daratan, seperti Patahan San Andreas di Amerika. Patahan transformasi ini menghubungkan lempeng naik Pasifik Timur , pertemuan divergen ke arah selatan, dengan lempeng Gorda Selatan – Juan de Fuca—Explorer Ridge, sebuah pertemuan divergen yang lain.

Zona retakan Blanco, Mendocin, Murray, dan Molokai adalah beberapa dari banyak zona retak (patahan transformasi) yang menggurat dasar samudera dan menggeser bubungan. San Andreas adalah patahan transform yang terlihat di dataran.
Zona patahan San Andreas, dengan panjang sekitar 1300 km dengan lebar puluhan km, memotong dua pertiga dari panjang California. Di sepanjang patahan, sudah berlangsung 10 juta tahun, lempeng Pasifik bergeser horisontal melewati lempeng Amerika Utara, dengan rasio 5cm/tahun. Daratan di sisi barat patahan (sisi lempeng Pasifik) bergerak ke arah barat laut daratan di sisi timur dari patahan (lempeng Amerika Utara).
San Andreas gif
Patahan San Andrea

Zona pertemuan lempeng

Tidak semua pertemuan atau batas-batas antar-lempeng sesederhana seperti yang dilukiskan di atas. Di beberapa tempat, pertemuan antar lempeng tidak bisa secara jelas ditentukan dikarenakan deformasi gerakan yang terjadi menerus di sabuk yang sangat lebar (disebut juga zona pertemuan-lempeng).  Salah satu zona tersebut adalah daerah di antara lempeng Eurasia dan lempeng Afrika yang didalamnya terdapat bagian-bagian kecil dari lempeng (micro plates).  Karena zona perbatasan lempeng terdiri atas dua lempeng besar dan bisa saja terdapat di antaranya satu atau dua lempeng kecil, zona ini biasanya memiliki struktur geologi dan pola gempa yang kompleks.

Rasio gerakan

Berdasarkan rekaman magnetik dasar lautan, ilmuwan mengetahui perkiraan dari setiap pembalikan magnetik, sehingga pada akhirnya dapat menghitung pergerakan yang terjadi selama jangka waktu tertentu. Ridge Arktik memiliki rasio pergerakan yang sangat rendah ( kurang dai 2,5 cm/tahun) dan Lempeng Pasifik Selatan di sisi barat Chili, memiliki rasio pergerakan yang sangat cepat (lebih dari 15 cm/tahun)

Sabtu, 01 Desember 2012

Siklus Air (Siklus Hidrologi) di Bumi

      Daur hidrologi sering juga dipakai istilah water cycle atau siklus air. Suatu sirkulasi air yang meliputi gerakan mulai dari laut ke atmosfer, dari atmosfer ke tanah, dan kembali ke laut lagi atau dengan arti lain siklus hidrologi merupakan rangkaian proses berpindahnya air permukaan bumi dari suatu tempat ke tempat lainnya hingga kembali ke tempat asalnya.
     Air naik ke udara dari permukaan laut atau dari daratan melalui evaporasi. Air di atmosfer dalam bentuk uap air atau awan bergerak dalam massa yang besar di atas benua dan dipanaskan oleh radiasi tanah. Panas membuat uap air lebih naik lagi sehingga cukup tinggi/dingin untuk terjadi kondensasi.
Uap air berubah jadi embun dan seterusnya jadi hujan atau salju. Curahan (precipitation) turun ke bawah, ke daratan atau langsung ke laut. Air yang tiba di daratan kemudian mengalir di atas permukaan sebagai sungai, terus kembali ke laut. Air yang tiba di daratan kemudian mengalir di atas permukaan sebagai sungai, terus kembali ke laut melengkapi siklus air.
      Dalam perjalanannya dari atmosfer ke luar, air mengalami banyak interupsi. Sebagian dari air hujan yang turun dari awan menguap sebelum tiba di permukaan bumi, sebagian lagi jatuh di atas daun tumbuh-tumbuhan (intercception) dan menguap dari permukaan daun-daun. Air yang tiba di tanah dapat mengalir terus ke laut, namun ada juga yang meresap dulu ke dalam tanah (infiltration) dan sampai ke lapisan batuan sebagai air tanah.
     Sebagian dari air tanah dihisap oleh tumbuh-tumbuhan melalui daun-daunan lalu menguapkan airnya ke udara (transpiration). Air yang mengalir di atas permukaan menuju sungai kemungkinan tertahan di kolam, selokan, dan sebagainya (surface detention), ada juga yang sementara tersimpan di danau, tetapi kemudian menguap atau sebaliknya, sebagian air mengalir di atas permukaan tanah melalui parit, sungai, hingga menuju ke laut ( surface run off ), sebagian lagi infiltrasi ke dasar danau-danau dan bergabung di dalam tanah sebagai air tanah yang pada akhirnya ke luar sebagai mata air.
Siklus hidrologi dibedakan ke dalam tiga jenis yaitu:

1. Siklus Pendek : Air laut menguap kemudian melalui proses kondensasi berubah menjadi butir-butir air yang halus atau awan dan selanjutnya hujan langsung jatuh ke laut dan akan kembali berulang.

2. Siklus Sedang : Air laut menguap lalu dibawa oleh angin menuju daratan dan melalui proses kondensasi berubah menjadi awan lalu jatuh sebagai hujan di daratan dan selanjutnya meresap ke dalam tanah lalu kembali ke laut melalui sungai-sungai atau saluran-saluran air.

3. Siklus Panjang : Air laut menguap, setelah menjadi awan melalui proses kondensasi, lalu terbawa oleh angin ke tempat yang lebih tinggi di daratan dan terjadilah hujan salju atau es di pegunungan-pegunungan yang tinggi. Bongkah-bongkah es mengendap di puncak gunung dan karena gaya beratnya meluncur ke tempat yang lebih rendah, mencair terbentuk gletser lalu mengalir melalui sungai-sungai kembali ke laut.

Unsur-unsur utama dalam siklus hidrologi :
* Evaporasi: penguapan dari badan air secara langsung
* Transpirasi: penguapan air yang terkandung dalam tumbuhan
* Respirasi: penguapan air dari tubuh hewan dan manusia
* Evapotranspirasi: perpaduan evaporasi dan transpirasi
* Kondensasi: proses perubahan wujud uap air menjadi titik-titik air sebagai hasil pendinginan
* Presipitasi: segala bentuk curahan atau hujan dari atmosfer ke bumi yang meliputi hujan air, hujan es, hujan salju
* Infiltrasi: air yang jatuh ke permukaan tanah dan meresap ke dalam tanah
* Perkolasi: air yang meresap terus sampai ke kedalaman tertentu hingga mencapai air tanah atau groundwater * Run off: air yang mengalir di atas permukaan tanah melalui parit, sungai, hingga menuju ke laut.

Siklus hidroloogi